Pages

Senin, 21 September 2009

BEDANYA PSIKIATER & PSIKOLOG

Maksud saya bahwa psikiater bukan dokter orang gila adalah psikiater bukan dokter yang hanya menangani orang gila tetapi justru lebih banyak pasien yang sebetulnya tidak gila tetapi mengalami gangguan kejiwaan. Perlu diketahui khalayak bahwa gangguan jiwa itu tidak harus selalu gila. Pemakai narkoba tidak gila tetapi terganggu jiwanya sehingga maunya pakai narkoba terus. Orang yang terobsesi masturbasi terus tidak gila tetapi terganggu jiwanya sehingga ia terpaksa harus masturbasi sampai 5 kali sehari misalnya. Orang yang sulit tidur tidak gila tetapi ia menjadi tidak dapat berfungsi optimal ditempat kerjanya, cepat marah kaerna tak bisa tidur, juga ditangani oleh dr Psikiater.

Sebetulnya tak ada itu orang gila yang ada gangguan skizofrenia, gangguan jiwa inilah yang sering disebut orang gila oleh masyarakat. Jadi psikiter itu bukan dokter khusus skizofrenia.

Perbedaan yang sangat jelas adalah bahwa psikiatri itu cabang ilmu kedokteran dan psikolog itu cabang ilmu sosial. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan dalam menangani suatu kasus itu berbeda dasarnya. Walaupun demikian, kita semua tetap menyadari bahwa hidup kita itu tak bisa dipisahkan dari yang namanya kehidupan biologis maupun sosial, seakan-akan kita itu hidup dalam alam yang vakum. Oleh sebab itulah sangat erat kerjasama antara psikolog dengan psikiater, tak terbatas hanya psikolog klinis dalam hal ini. Seorang psikiater tak akan bisa menterapi pasien kalau hanya berpegang pada dasar ilmu biologis kedokteran tanpa memperhatikan keadaan sosial budaya kehidupan pasien, demikian juga seringkali seorang psikolog tak dapat menterapi pasiennya karena ternyata ada faktor biologis yang sudah terganggu akibat kelainan jiwanya.

Mungkin secara gamblang saya berikan suatu contoh (depresi misalnya, apabila depresi itu masih ringan dan baru mengganggu sedikit pada alam perasaan pasien sehingga berpikiran otomatis negatif lalu jadi sedih dan tak jernih berpikir tanpa gangguan fisik seperti tak bisa tidur atau malah tidur terus tak bersemangat, sakit kepala, sakit maag, perut kembung terus, tidak nafsu makan atau malah

makan terus sampai-sampai menggangu aktivitas kehidupan dan produktivitasnya silahkan berkonsultasi dengan psikolog dan melakukan sesion psikoterapi misalnya). Tetapi apabila sudah menyangkut kelainan fisik seperti contoh yang tersebut diatas maka sebaiknya ke psikiater karena problema biologis dan perlu pengobatan (termasuk depresinya juga perlu diobati apabila sudah berat - kalau belum berat namanya stress-lah) hanya dipelajari di fakultas kedokteran. Saya tahu ada banyak psikolog yang berani memberikan obat tanpa mengerti farmakologi obat dan efek samping yang dapat

terjadi. Untuk hal ini pernah kami ingatkan pada mahasiswa psikologi bahwa bila kelak mereka berani berlaku seperti itu, tanggung sendiri kalau ada akibat apa-apa! Baik secara moral maupun hukum

Jadi kalau baru anak kecil nonton VCD porno, apakah itu masalah yg lebih banyak perlu pendekatan sosial atau biologis kedokteran? Kalau jawabannya sosial sebaiknya ke psikolog dulu sampai terbukti ada kelainan biologis seperti obsesive kompulsif untuk nonton yang porno-porno terus baru deh dikonsul ke psikiater (yang seperti ini sih jarang walau ada).

Ada satu hal lagi, psikolog klinis juga memperdalam ilmunya dalam melakukan pemeriksaan-pemeriksaan psikologis yang hasilnya dapat menunjukkan apakah ada kelainan atau tidak. Perangkat-perangkat pemeriksaan ini tidak dapat dikerjakan oleh psikiater karena psikiater dilatih sebagai seorang dokter yang khusus menangani masalah kejiwaan tanpa perangkat diagnosis seperti yang dimiliki psikolog. Untuk itulah para psikiater masih memerlukan bantuan para psikolog dan para psikolog memerlukan bantuan dokter psikiater untuk menterapi pasiennya, karena tugas dokter yah menterapi.

Jadi walaupun serupa tapi gak sama tuh bidangnya. Tapi bila masih kurang mengerti boleh tanya-tanya lagi kok. Terkadang memang sulit bagi oragn yang belum biasa melihat perbedaan kerja sehari-hari psikiter dan psikolog untuk mengerti, saya bisa maklum karena bulan-bulan pertama saya jadi asisten di psikiatri juga gak tahu dimana letaknya kerjasama psikolog dan psikiter. Yang saya tahu, karena bos saya psikiater dan istrinya seorang psikolog kok, bisa kerjasama dgn baik gak rebutan pasien? Awalnya saya hanya tahu itu tetapi akhirnya mengerti dimana letak kerjasamanya dan melihat perbedaan yang cukup nyata dalam bidang pekerjaan kedua profesi ini.

0 komentar: