Gangguan fonologis bisa dikarenakan faktor usia yang mengakibatkan alat bicara atau otot-otot yang digunakan untuk berbicara belum lengkap atau belum berkembang sempurna; dari susunan gigi geligi, bentuk rahang, sampai lidah yang mungkin masih kaku.
Beberapa kasus gangguan ini malah berkaitan dengan keterbelakangan mental. Anak yang kecerdasannya tak begitu baik, perkembangan bicaranya umumnya juga akan terganggu. Bila gangguan neurologis yang jadi penyebab, berarti ada fungsi susunan saraf yang mengalami gangguan.
Sebab lain, gangguan pendengaran. Bila anak tak bisa mendengar dengan jelas, otomatis perkembangan bicaranya terganggu. Tak kalah penting, faktor lingkungan, terutama bila anak tidak/kurang dilatih berbicara secara benar.
Anak harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan. Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama. Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam. Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip
menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.
Sebenarnya gagap tidaknya seorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase
true speech (bicara benar) di usia 18 bulan. Kegagapan ini akan tampak jelas di usia 4- 5 tahun, karena pada usia ini seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik, pemahamannya sudah bagus, pembentukan kalimat, bahasa ekspresif, dan kelancaran bicaranya juga sudah bagus, serta sosialisasi anak pun sudah lebih luas.
Kondisi gagap pada anak bervariasi dari yang ringan sampai berat. Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan huruf awal b, d, s, dan t. Huruf b, d, s, t adalah huruf yang membutuhkan tenaga pada saat mengucapkannya dan justru kata-kata yang diawali dengan huruf itulah yang sering mengalami gangguan pengucapan pada penderita gagap.
Penderita gagap umumnya juga sering diikuti oleh gerakan berulang pada bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan. Namanyatics, yang terjadi pada wajah atau gerak-gerak kecil pada bagian punggung yang berulang dan tak terkendali. Gerakan ini merupakan representasi perjuangan dari dalam dirinya yang berat untuk dapat berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-situasi tertentu seperti harus berbicara di
hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
Sementara pada gagap yang ringan, anak dalam keadaan tertentu dapat bicara normal dan lancar saat sedang sendiri, berbisik, menyanyi, dan di antara orang-orang yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya. Serangan gagap bisa dialami bila ia merasa malu, rendah diri atau terlampau menyadari kondisi dirinya.
Secara umum tanda-tanda kegagapan yang harus diwaspadai oleh orangtua maupun guru menurut Dr. Ehud Yairi, Ph.D. dari Department of Speech and Hearing Science, Universitas Illinois, Amerika Serikat adalah sebagai berikut :
·Mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini.
·Anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara (tampak dari otot-otot wajah, terutama di sekitar mulut)
·Nada suara mungkin naik seiring pengulangan
·Kadang suara anak seperti tercekat, udara atau suara tertahan selama beberapa detik.
·Jika anak mengalami kegagapan dalam 10% lebih pembicaraannya, makakegagapannya dianggap cukup parah.
Ini biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode usia 2-4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi sebagai bagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap biasanya muncul karena kontrol emosinya yang masih rendah dan antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum dibarengi dengan kematangan alat bicaranya. Sementara pada anak remaja biasanya disebabkan karena rasa kurang percaya diri dan kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya.
2. Gagap Sementara/Gagap Ringan
Anak-anak usia 6-8 tahun sering mengalami gagap sementara, hal ini biasanya
hanya berlangsung sebentar. Umumnya disebabkan oleh faktor psikologis,
misalnya anak mulai memasuki lingkungan baru yang lebih luas, seperti
lingkungan sekolah dan pergaulan, sehingga anak memerlukan waktu untuk
menyesuaikan diri baik secara mental maupun sosial.
3. Gagap Menetap
Gagap ini dapat terjadi pada anak usia3-8 tahun. Biasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan akan terus berlangsung, kecuali dibantu dengan terapi wicara (speech therapy).
gagap, yaitu carabicara yang ditandai dengan adanya pengulangan suara atau perpanjangan sukukata, atau pengulangan seperti orang gugup atau terhenti sehingga menggangguirama alur bicara. Meskipun tidak ada penyebab jelas yang dapat menerangkanmunculnya gagap, faktor keturunan disinyalir memberikan kontribusi yang cukupbesar, yaitu sebesar 71% dalam terjadinya gangguan ini.
Gagap muncul secara bertahap antara usia 2 hingga 7 tahun, memuncakpada saat anak berusia 5 tahun, dan biasanya akan membaik dengan sendirinyaseiring bertambahnya usia. Meski begitu, kadang-kadang gangguan gagap menjadikronik atau semakin berat, jika penderita mengalami gangguan kejiwaan yang lainseperti gangguan kepercayaan diri atau percaya diri turun, gangguan perilaku ataumenghindar secara sosial.
Gangguan gagap juga bisa bertambah berat apabila penderita mendapattanggapan atau perlakuan buruk dari lingkungan sosialnya, seperti seringdiolokolok dan dibuat menjadi cemas. Karena itu diperlukan penanganan secaradini 2 agar gangguan gagap ini tidak terbawa hingga anak menjadi besar.Diperlukan motivasi dan dedikasi yang tinggi dari penderita maupun orang-orangdi sekitarnya untuk mengatasi gangguan ini.